Perkembangan Kognitif Peserta Didik
Perkembangan Kognitif Peserta Didik
Ditulis oleh : Berliana Br Sitorus (2303011018)
Mahasiswa FKIP Semester 3
Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Universtitas Dharmas Indonesia
Perkembangan kognitif peserta didik adalah proses peningkatan kemampuan dalam memahami, mengingat, mengolah informasi, dan mengambil keputusan. Perkembangan kognitif ini merupakan bagian dari proses tumbuh kembang anak yang dapat memengaruhi beberapa aspek, seperti: Perhatian, Memori dan daya ingat, Peran eksekutif, Kemampuan berbahasa, Merasa dan mengamati. Perkembangan kognitif peserta didik memiliki peran penting dalam proses pembelajaran, yaitu:
- Menentukan sejauh mana siswa dapat menangkap dan menerima pembelajaran
- Menganalisis dan menyampaikan ide terkait pembelajaran
- Berdampak pada strategi belajar peserta didik
Beberapa upaya yang dapat dilakukan guru untuk mengembangkan kemampuan kognitif peserta didik, antara lain:
- Mengajarkan dan menganjurkan peserta didik untuk menggunakan strategi belajar yang sesuai dengan kelompok usia mereka
- Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk belajar sendiri
- Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengevaluasi belajarnya sendiri
Perkembangan kognitif peserta didik dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti:
- Faktor hereditas/keturunan
- Faktor lingkungan
- Faktor kematangan
- Faktor pembentukan
- Faktor minat dan bakat
- Faktor kebebasan
Menurut Piaget bahwa perkembangan kognitif seorang anak terjadi secara bertahap. Seorang anak tidak dapat menerima pengetahuan secara langsung dan tidak bisa langsung menggunakan pengetahuan tersebut, tetapi pengetahuan akan didapat secara bertahap dengan cara belajar secara aktif di lingkungan sekolah. Piaget membagi tahapan perkembangan kognitif menjadi empat, yaitu:
(1) Tahap sensorimotorik (0-2 tahun). Tahap ini juga disebut masa discriminating dan labeling. Pada masa ini kemampuan anak terbatas pada gerak-gerak reflex, bahasa awal, dan ruang waktu sekarang saja;
(2) Tahap praoperasional (2-4 tahun). Pada tahap praoperasional, atau prakonseptual, atau disebut juga dengan masa intuitif, anak mulai mengembangkan kemampuan menerima stimulus secara terbatas. Kemampuan bahasa mulai berkembang, pemikiran masih statis, belum dapat berpikir abstrak, dan kemampuan persepsi waktu dan ruang masih terbatas;
(3) Tahap operasional konkrit (7-11 tahun) Tahap ini juga disebut masa performing operation. Pada masa ini, anak sudah mampu menyelesaikan tugas-tugas menggabungkan, memisahkan, menyusun, menderetkan, melipat, dan membagi; dan
(4) Tahap operasonal formal (11-15 tahun) Tahap ini juga disebut masa proportional thinking. Pada masa ini, anak sudah mampu berpikir tingkat tinggi, seperti berpikir secara deduktif, induktif, menganalisis, mensintesis, mampu berpikir secara abstrak dan secara reflektif, serta mampu memecahkan berbagai masalah (Mu’min 2013).
Berbeda dengan Piaget, perkembangan kognitif menurut Vygotsky lebih menekankan pada konsep sosiokultural, yaitu konteks sosial dan interaksi dengan orang lain dalam proses belajar anak. Vygotsky juga yakin suatu pembelajaran tidak hanya terjadi saat di sekolah atau dari guru saja, tetapi suatu pembelajaran dapat terjadi saat siswa bekerja menangani tugas-tugas yang belum pernah dipelajari di sekolah namun tugas-tugas itu bisa dikerjakannya dengan baik, misalnya di masyarakat.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kognitif atau pemikiran adalah istilah yang digunakan oleh ahli psikologi untuk menjelaskan semua aktivitas mental yang berhubungan dengan persepsi, pikiran, ingatan dan pengolahan informasi yang memungkinkan seseorang memperoleh pengetahuan, memecahkan masalah, dan merencanakan masa depan, atau semua proses psikologis yang berkaitan bagaimana individu mempelajari, memperhatikan, mengamati, membayangkan, memperkirakan, menilai dan memikirkan lingkungannya.
Salah satu aspek perkembangan kognitif yang sangat penting bagi proses belajar peserta didik di sekolah, yaitu keterampilan kognitif, yakni suatu kemampuan menata dan menggunakan pikiran dalam mengolah informasi, baik dalam belajar maupun tidak. Peserta didik tidak pernah lepas dari belajar, baik di sekolah lingkungan keluarga, maupun lingkungan masyarakat. Kemampuan keterampilan kognitif sangat diperlukan peserta didik. Perkembangan keterampilan kognitif merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam perkembangan peserta didik. Kita ketahui bahwa peserta didik merupakan objek yang berkaitan langsung dengan proses pembelajaran, sehingga perkembangan keterampilan kognitif sangat menentukan keberhasilan peserta didik dalam sekolah.
Proses kognitif dapat diterangkan dengan pendekatan sistem pemrosesan informasi. Inti dari pendekatan pemrosesan informasi ini adalah proses memori dan proses berpikir. Menurut pendekatan ini, anak-anak secara bertahap mengembangkan kapasitasnya untuk memproses informasi, dan karenanya secara bertahap pula mereka bisa mendapatkan pengetahuan dan keahlian yang kompleks. Uraian berikut menjelaskan beberapa konsep tentang kemampuan kognitif anak yang terkait perkembangan proses kognitifnya, seperti persepsi, memori dan atensi.
Berdasarkan paparan perkembangan kognitif di atas, implikasi dalam pembelajaran perlu melihat bangunan metodologi pendidikan Islam sehingga dari situ dapat ditentukan beberapa strategi pembelajaran dengan mempertimbangkan aspek perkembangan kognitif peserta didik. Prinsip pemakaian metodologi pendidikan agama Islam dibagi menjadi:
(1) pengenalan yang utuh terhadap peserta didik: umur, kepribadian, dan tingkat kemampuan mereka;
(2) berstandar kepada tujuan, oleh karena metode diaplikasikan untuk mencapai tujuan;
(3) menegakkan uswah hasanah (contoh tauladan yang baik) terhadap peserta didik.
Beberapa strategi yang dapat digunakan guru dalam membantu peserta didik mengembangkan proses-proses kognitifnya antara lain:
1. Ajak peserta didik memfokuskan perhatian dan meminimalkan gangguan. Gunakan isyarat, gerakan dan perubahan nada suara yang menunjukkan bahwa ada sesuatu yang penting.
2. Bantu peserta didik untuk membuat isyarat atau petunjuk sendiri atau memahami satu kalimat yang perlu mereka perhatikan. Gunakan komentar instruksional, seperti: “Baik, mari kita diskusikan...!” “Sekarang perhatikan...!” dan buat pembelajaran menjadi menarik.
3. Gunakan media dan teknologi secara efektif sebagai bagian dari pembelajaran di kelas. Fokuskan pada pembelajaran aktif untuk membuat proses pembelajaran lebih menyenangkan, mengurangi kejenuhan, dan meningkatkan perhatian.
4. Ubah lingkungan fisik dengan mengubah tata ruang, model tempat duduk, atau berpindah setting ruangan. Ubah jalur indrawi dengan memberi satu pelajaran yang mengharuskan peserta didik menyentuh, membuai, atau merasakan.
5. Hindari perilaku yang membingungkan dan dorong peserta didik untuk mengingat materi pembelajaran secara lebih mendalam, bukan mengingat sepintas lalu.

Komentar
Posting Komentar